TUGAS GEOGRAFI BUAT PAK ALEX.

1.TERUMBU KARANG LEBIH BANYAK TERDAPAT DI DAERAH TROPIS DIBANDINGKAN DAERAH SUBTROPIS, karena umumnya terdapat pada perairan yang relatif dangkal dan jernih. Suhunya hangat ( lebih dari 22 derajat celcius), memiliki kadar karbonat tinggi. Laut di daerah tropis memiliki kadar karbonat yang lebih tinggi di bandingkan dengan laut di daerah sub tropis karena kadar sinar mataharinya lebih banyak dibandingkan di daerah sub tropis. Oleh sebab itu terumbu karang lebih banyak terdapat di daerah tropis dibanding daerah sub tropis, sebab intensitas sinar matahari di daerah tropis lebih banyak dibanding di daerah tropis. Di daerah tropis intensitas sinar matahari yang begitu besar menyebabkan terumbu karang hidup lebih baik dibandingkan di daerah sub tropis . Intensitas sinar matahari yang begitu besar diperlukan karena cahaya matahari harus dapat menembus hingga dasar perairan. Sinar matahari diperlukan untuk proses fotosintesis, sedangkan kadar kapur yang tinggi diperlukan untuk membentuk kerangka hewan penyusun karang dan biota lainnya. Makhluk hidup di perairan laut dapat bertahan hidup di suhu yang hangat karena cukup menerima intensitas atau cahaya matahari sehingga mereka mendapat oksigen hidup di perairan laut.

2. ASAL MULA TERBENTUKNYA ATOL (TERUMBU KARANG) yaitu dalam proses alamiah, sering terjadi pertumbuhan organisme tertentu dalam laut di bagian yang dangkalnya. Bila organisme itu mati, sisa kerangkanya membentuk karang yang sangat keras dan disebut dengan terumbu karang. Terumbu karang terdiri atas senyawa kalsium karbonat (zat kapur). Organisme yang baru selanjutnya tumbuh lagi di atas terumbu karang tadi dan begitulah seterusnya. Dalam proses alamiah lainnya, dapat terbentuk atol, yaitu terumbu karang yang berbentuk melingkar dan biasanya mengelilingi laguna (laut dangkal di tengahnya).

3. MORFOLOGI LAUT DI TINJAU DARI KEDALAMAN,

A. ZONA LITORAL

bagian lautan yang terletak di antara kondisi saat air laut pasang naik dan pasang surut

B. ZONA NERITIK

bagian lautan yang dalamnya berkisar antara 50-150 m. Wilayah ini dapat tembus oleh cahaya matahari sehingga kehidupan hewan dan tumbuhan paling banyak berada di wilayah ini.

C. ZONA BATIAL

bagian lautan yang dalamnya 150-2000m, sehingga cahayakan masih dapat matahari tidak dapat menembus sampai dasar laut. Jenis binatang hidup di kedalaman ini, tetapi tumbuhan jauh berkurang dibanding zona neritik.

D. ZONA ABISAL

bagian lautan yang dalamnya lebih dari 2000m, suhu wilayah ini sangat rendah, sehingga sudah tidak ada lagi tumbuhan. Beberapa hewan laut ada yang mampu hidup di zona ini.

E. BASIN

dasar laut yang dalam berbentuk menyerupai baskom besar.

4. TIPE PANTAI DAN CONTOHNYA,

A. PANTAI DATAR >  bentuknya mendatar. Banyak dijumpai di Indonesia (Ancol di DKI Jakarta, Anyer di Banten).

B. PANTAI LAGUNA > pantai yang menyerupai bentuk seperti danau di dekat pantai. Pantai tersebut seperti tertutup oleh lingkaran batu karang yang menghalangi ombak dari lautan lepas langsung masuk ke pantainya. Biasanya disebut danau laut atau laguna.

C. PANTAI BERPASIR > bentuknya landai atau datar dengan dominasi pasirnya yang sangat banyak. (Parangtritis di Yogyakarta)

D. PANTAI CURAM (CLIFF) >  pantai yang berbentuk dinding2 curam. (Selatan Jawa dan Barat Sumatera)

E. PANTAI FYORD > pantai yang mempunyai bentuk seperti huruf U yang curam. Terjadi akibat adanya proses es menuju laut di negara beriklim dingin.

F. PANTAI EUSTARIA >  berbentuk seperti corong. Terdapat di muara sungai atau tempat bertemunya air sungai dan laut.

5. DAERAH ESTUARIA KADAR SALINITASNYA RENDAH,

Salinitas di estuaria dipengaruhi oleh musim, topografi estuaria, pasang surut, dan jumlah air tawar. Pada saat pasang-naik, air laut menjauhi hulu estuaria dan menggeser isohaline ke hulu. Pada saat pasang-turun, menggeser isohaline ke hilir. Kondisi tersebut menyebabkan adanya daerah yang salinitasnya berubah sesuai dengan pasang surut dan memiliki fluktuasi salinitas yang maksimum (Nybakken, 1988).

Rotasi bumi juga mempengaruhi salinitas estuaria yang disebut dengan kekuatan Coriolis. Rotasi bumi membelokkan aliran air di belahan bumi. Di belahan bumi utara, kekuatan coriolis membelokkan air tawar yang mengalir ke luar sebelah kanan jika melihat estuaria ke arah laut dan air asin mengalir ke estuaria digeser ke kanan jika melihar estuaria dari arah laut. Pembelokkan aliran air di belahan bumi selatan adalah kebalikan dari belahan bumi utara (Nybakken, 1988).

Salinitas juga dipengaruhi oleh perubahan penguapan musiman. Di daerah yang debit air tawar selama setengah tahun, maka salinitasnya menjadi tinggi pada daerah hulu. Jika aliran air tawar naik, maka gradient salinitas digeser ke hilir ke arah mulut estuaria (Nybakken, 1988). Pada estuaria dikenal dengan air interstitial yang berasal dari air berada di atas substrat estuaria. Air interstitial, lumput dan pasir bersifat buffer terhadap air yang terdapat di atasnya. Daerah

intertidal bagian atas (ke arah hulu) mempunyai salinitas tinggi daripada daerah intertidal bagian bawah (ke arah hilir).

6. VARIASI TEMPERATUR AIR LAUT
Air laut mempunyai kedalaman yang berbeda-beda. Kedalaman tersebut dapat mempengaruhi sejauh mana sinar matahari dapat menembus. Semakin dalam laut tersebut maka semakin rendah pula temperaturnya.  Karena air laut kurang mendapat sinar matahari. Karena matahari mengandung suhu panas yang dapat menaikkan temperatur.
7. PERAIRAN DI SEKITAR PADANG LAMUN RELATIF TENANG, Tanaman yang biasa disebut seagrass ini merupakan tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang menyesuaikan diri hidup terbenam di dalam laut. Karena kemampuan adaptasinya, tumbuhan ini mampu hidup di lingkungan laut atau medium air asin. Disebut padang lamun, karena ia tumbuh dalam satu kawasan luas, yang jika dilihat mirip dengan bentangan padang rumput di darat. Tanaman lamun bisa hidup normal dalam keadaan terbenam, dan mempunyai sistem perakaran jangkar (rhizoma) yang berkembang baik. Mengingat pada dasarnya tak berbeda dengan tanaman darat, maka lamun punya keunikan yaitu memiliki bunga dan buah yang kemudian berkembang menjadi benih. Semuanya dilakukan dalam keadaan terbenam di perairan laut. Hal inilah yang menjadi perbedaan nyata lamun dengan tumbuhan yang hidup terbenam di laut lainnya seperti makro-alga atau rumput laut (seaweed). Untuk bisa hidup normal, akar tanaman lamun cukup kuat menghujam ke dasar perairan tempat tumbuh. Akar ini tidak berfungsi penting dalam pengambilan air –sebagaimana tanaman darat– karena daun dapat menyerap nutrien (zat gizi) secara langsung dari dalam air lat. Tudung akarnya dapat menyerap nutrien dan melakukan fiksasi nitrogen. Sementara itu, untuk menjaga agar tubuhnya tetap mengapung dalam kolom air, lamun dilengkapi dengan rongga udara.
Lamun tumbuh subur terutama di daerah terbuka pasang surut dan perairan pantai yang dasarnya bisa berupa lumpur, pasir, kerikil, dan patahan karang mati, dengan kedalaman hingga empat meter. Malah di perairan yang sangat jernih, beberapa jenis lamun ditemukan tumbuh di kedalaman 8 hingga 15 meter.

Hal inilah yang menyebabkan perairan di sekitar padang lamun lebih tenang, karena padang lamun itu ibarat hutan yang di tanam di perairan laut yang berfungsi menangkal air laut , karena padang lamun memiliki akar yang tertanam di dasar laut sangat kuat dan berfungsi untuk menahan arus dan gelombang laut serta sebagai tempat tinggal yang nyaman bagi biota yang hidup di dalamnya.

8. FUNGSI MANGROVE BAGI EKOSISTEM

– sebagai tempat penyedia nutrien bagi biota perairan agar biota perairan tidak punah

– mencegah abrasi

-mencegah masuknya logam

– tempat berkembang biaknya berbagai macam jenis ikan

– sebagai penghalang terjadinya pengikisan tanah oleh air laut

– dapat menyerap limbah

– penahan dari ombak

9. DI SELATAN JAWA TIDAK TERDAPAT HUTAN MANGROVE, Pesisir Pantai Selatan Pulau Jawa (PPSPJ)

Pada dasarnya, pola sebaran mangrove sangat tergantung dengan karakteristik habitat dan daya adaptasi mangrove sendiri. Seperti diketahui, salah satu daerah yang “disukai” mangrove sehingga dijadikan tempat tinggalnya adalah sebuah tempat yang memiliki karakteristik gelombang laut nan kecil di lokasi yang teduh dan terlindung.

Sebuah tempat di PPSPJ, bernama Parangtritis, walaupun ada sedikit spesies mangrove yang ditemukan (jadi, di PPUPJ mangrove tetap tumbuh tapi tidak tumbuh atau terdistribusi secara normal), namun tak teridentifikasi adanya tegakan murni dari spesies mangrove mayor seperti Rhizophora, Sonneratia dan jenis perintis lainnya. Mengapa mangrove absen di daerah ini? Satu jawaban pasti karena Parangtritis memiliki gelombang besar. Bahkan menurut catatan, keganasan gelombang pantainya telah seringkali menelan korban manusia.

PPSPJ yang langsung berbatasan dengan samudera luas, adalah juga salah satu penyebab mengapa mangrove tidak ditemukan di pesisir selatan ini. Seperti yang telah diutarakan di atas bahwa tak adanya batasan pulau dan lekukan seperti tanjung dan teluk, mengakibatkan PPSPJ menjelma sebagai sebuah tempat datar alias flat tanpa pelindung, sehingga tak mampu melindungi mangrove dari terpaan gelombang besar. Untuk itulah, mangrove absen di daerah ini.

XI SOS 2 – 29 RACHEL PARDEDE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: